Di tengah pesta korupsi yang memuakkan di negeri ini, masih banyak kaum
muda yang kreatif dan produktif berwirausaha. Mereka inovatif, mandiri,
dan menghidupi orang lain dengan berbagai usaha.
Sarjana
singkong. Itulah julukan bagi Firmansyah Budi Prasetyo (30) setelah ia
berbisnis singkong. Lelaki asal Yogyakarta itu sejak tahun 2006 membuat
singkong goreng yang renyah dan pulen berbentuk stik dengan nama Tela
Krezz. Kata ”tela” diambil dari ketela, atau ”telo” alias singkong.
Di tangan Firmansyah, singkong dalam wujud tepung juga bisa berubah menjadi kue bolu dan brownies.
Khusus di Yogyakarta, kedua produk tersebut diberi merek Cokro Tela
Cake. Sementara di luar Yogyakarta, brownies dikenal dengan nama
Kassafa.
”Kami menggunakan 100 persen singkong tanpa tambahan
terigu,” ujar Firmansyah, yang dengan bangga menyebut dirinya master of
singkong.
”Gelar” sarjana tela yang dia singkat menjadi ST dan
MSi dari master of singkong bahkan dicantumkan dalam kartu nama lulusan
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini. ”Dari sepuluh
teman gaul zaman kuliah, delapan orang jadi PNS, satu pengacara, dan
saya jualan singkong,” ujar Firmansyah.
Si laris Sally
Kita
tengok kegigihan kaum muda lain, yaitu Donny Pramono (29), kelahiran
Kendari, Sulawesi Tenggara, yang bersekolah di Surabaya, Jawa Timur. Ia
membuka usaha Sour Sally di mal Senayan City, Jakarta.
Pertama
kali dibuka pada pertengahan tahun 2008, hingga berbulan-bulan kemudian,
antrean panjang pembeli selalu mewarnai toko pertamanya itu.
Toko
yang tidak menyertakan nama produk tersebut memang mengundang tanya.
Setelah berada di dalam kios, barulah pengunjung akan mendapati produk
yang dijual, yaitu yoghurt beku dengan berbagai macam topping. Pada
awalnya, banyak yang mengira Sour Sally adalah waralaba dari luar
negeri.
Donny, yang bergelar master di bidang pemasaran dari
University of La Verne, California, Amerika Serikat, punya pemikiran
sendiri tentang bisnis yang terilhami dari gaya hidup makan yoghurt di
AS. Baginya, pencitraan merek berperan sangat penting untuk menciptakan
gaya hidup yang sama di Indonesia.
”Saya ingin, ketika bicara
yoghurt, orang langsung ingat pada Sour Sally. Bagi saya, siapa pun bisa
membuat yoghurt. Jadi, bisnis saya harus kuat di branding,” kata Donny.
Untuk
mewujudkan mimpinya itu, Donny menyiapkan konsep dagang dengan memakai
jasa konsultan desain merek di Singapura. Dari konsultasi inilah lahir
nama Sour Sally.
”Sally itu seorang gadis kecil yang manis, lalu
dipadukan dengan sour yang artinya asam. Nama ini sesuai dengan produk
yang dijual, yaitu yoghurt. Jadi, Sour Sally tidak hanya produk, tetapi
juga merek dan karakter,” tutur Donny.
Inovasi, seperti dikatakan
pakar pemasaran, Rhenald Kasali, menjadi kunci seorang wirausaha.
”Inovasinya bisa berupa produk, servis, juga cara memasarkan. Inovasi
inilah yang menjadi pembeda dengan mereka yang disebut pedagang,” kata
Rhenald.
Di sekeliling kita, inovasi produk salah satunya bisa
dilihat pada produk kuliner. Banyak yang memilih bidang kuliner dengan
mengambil semangat keindonesiaan. Lihat saja orang- orang yang memadukan
cokelat dengan berbagai rasa jamu dan makanan tradisional. Ada pula
yang mengubah singkong atau ubi menjadi brownies, mi, muffin, atau pie.
Jualan di bus
Inovasi
juga menjadi salah satu kunci sukses Fiki Satari (36), pemilik bisnis
clothing di Bandung dengan nama Airplane Systm. Clothing adalah sebutan
untuk bisnis yang memproduksi sendiri, lengkap dengan label dari
produk-produknya. Airplane Systm, sejak didirikan tahun 1998, punya
beragam produk mode, seperti kaus, jaket, sweater, jins, sepatu, tas,
ikat pinggang, dan dompet.
Seiring dengan tumbuhnya pemilik
clothing, distro, factory outlet, dan mal yang menjual produk-produk
bermerek internasional, persaingan yang kian ketat tak terelakkan. Fiki
pun berinovasi, salah satunya dalam desain produk. Dia menerapkan apa
yang berlaku di dunia mode. Sejak tahun 2007 dibuatlah tren berdasarkan
musim.
Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran ini
membagi setiap tahunnya ke dalam tiga musim dan membuat tema yang
berbeda untuk setiap musim. Tema-tema ini diterapkan pada warna dan
gambar produk, terutama pada kaus.
Sumber ide beragam. Untuk
musim terbaru tahun ini, idenya berasal dari usia Airplane Systm yang
mencapai 14 tahun. Berdasarkan angka tersebut dan target pasar untuk
kalangan remaja, tema baru ini diberi nama Fourteen for Teenage. Salah
satu koleksi kaus dari tema ini akan bergambar karya 14 seniman, di
antaranya Tere dan Tisna Sanjaya.
Fiki juga pernah membuat tema
Dancing Smoke tahun 2009 yang inspirasinya berasal dari asap obat
nyamuk. ”Waktu melamun, saya lihat bentuk asap obat nyamuk. Ternyata
kalau dilihat dengan teliti bagus juga karena bentuknya bisa berubah-
ubah,” kata Fiki.
Dari bentuk asap ini, terciptalah berbagai
gambar abstrak yang disablon di atas kaus. Tidak hanya itu, setiap
gambar dimaknai sebagai personifikasi karakter manusia. Misalnya, tipe
aliran asap yang lembut (laminar) cocok untuk mereka yang berkarakter
tenang, sedangkan asap yang berputar-putar (swirl) bisa dipakai untuk
mereka yang bertipe agresif. Dengan pilihan ini, setiap pembeli bisa
memilih kaus sesuai dengan karakternya.
Fiki juga membuat cara
pemasaran kreatif. Sejak tahun 2006, dia membuat toko berjalan dengan
menggunakan sebuah bus yang disebut Airbus One. Bagian dalam bus
dirombak, dipasangi rak untuk memajang produk-produk Airplane Systm. Bus
ini didapat atas kerja sama dengan teman yang bekerja di perusahaan
otobus.
”Ide dan jaringan yang luas adalah kunci berwirausaha.
Biaya juga. Tetapi untuk biaya, sumbernya bisa berasal dari mana saja,
seperti yang saya lakukan dengan membuat Airbus One,” kata Fiki.
Inovatif,
cerdas, tekun, dan kerja keras membuka peluang usaha: itulah yang
dilakukan kaum muda tersebut. Bukan korupsi yang menyengsarakan rakyat.



0 komentar:
Post a Comment