Seorang pengusaha besar Indonesia yang masih muda gelisah di ruang
kerjanya. Pasalnya, majikannya yang ia kagumi memecat tiga karyawan,
hanya karena mereka menggunakan waktu sejam menengok teman kerja yang
sakit.
Setelah dua jam berpikir, ia mengundurkan diri. Ia berterima kasih karena sudah dipercaya menjadi chief executive officer selama
enam tahun, sejak ia berusia 26 tahun (2002-2008). Anak muda ini sadar
ia telah membuat keputusan serius. Keluar dari sebuah perusahaan besar
tanpa sekoci penyelamat. Gajinya yang sekitar Rp 118 juta per bulan ia
abaikan.
Setelah keluar, peraih gelar master hukum dari
Harvard University ini tidak bingung. Ia mendirikan perusahaan makanan,
pengepakan, dan importir mesin-mesin industri ringan. Tahun pertama,
kerja keras. Seluruh 120 karyawannya, ia gugah bekerja keras. Akhir
tahun, ia bersyukur. Perjuangan selama setahun meraup keuntungan bersih
Rp 23 miliar.
Tahun kedua, jumlah karyawan tumbuh empat kali
lipat. Keuntungannya menjadi Rp 57 miliar. ”Kalau saya tidak memutuskan
berdiri di kaki sendiri, saya akan survive, tetapi pendapatan saya segitu saja. Pula saya tidak bisa mempekerjakan banyak orang,” katanya di Jakarta, Jumat (24/2/2012).
Pengalaman
yang sama diutarakan seorang usahawan di bidang makanan dan minuman
ringan. Dalam usia 28 tahun, dia sudah menjadi CEO di anak perusahaan
dari sebuah perusahaan rokok. Gajinya tahun 1986 mencapai Rp 9 juta. Ia
lalu diajak perusahaan raksasa lain, juga dengan jabatan CEO, dengan
gaji empat kali lipat. Tentu saja tawaran ini ia ambil.
Tiga
tahun menjadi CEO di perusahaan tersebut, dia berpikir membangun
perusahaan sendiri. Dua tahun pertama amat berat. Ia mengembangkan
usaha bisnis makanan dan minuman ringan. Tahun keenam, setelah menguasai
pasar dalam negeri, ia mulai ekspor. ”Keuntungan dari ekspor amat
kecil. Tetapi sekecil-kecilnya laba itu saya ambil juga sebab kalau
ekspornya ke 30 negara misalnya, akan terasa besar juga,” ujarnya saat
ditemui di kediamannya, pekan lalu.
Ia peroleh karena ia berani
berisiko berdiri sendiri. Namun, jangan keliru, banyak juga yang mencoba
sendiri tetapi gagal. Ia lebih cocok menjadi profesional. Ini aspek
yang tidak banyak diketahui orang. Berbeda menjadi seorang pekerja
profesional dibanding menjadi bos di perusahaan sendiri



0 komentar:
Post a Comment