Usahawan Indonesia, Elijah Frangkle W, lagi di kawasan The Bund
Shanghai, China. Di area elite di tepian Sungai Huangpu itu, Elijah
hendak membangun hotel dan beberapa apartemen. Saudara-saudaranya tidak
ada yang mendukung karena saat itu, tahun 1998, mereka sendiri
kerepotan menghadapi krisis ekonomi yang menikam Indonesia.
Akan
tetapi, pengusaha lulusan Universitas Berkeley, Amerika Serikat, ini
yakin, justru pada saat krisis, di situlah ada peluang. Elijah pun
membujuk ayahnya, salah seorang usahawan besar, untuk menambah modal.
Sang ayah pada awalnya ragu. Apakah si anak sudah melakukan perhitungan
matang. Namun, sebagai ayah, ia akhirnya tersentuh juga oleh tekad
putranya. Ia mengucurkan uang pribadinya kepada Elijah.
Proyek
pun dimulai. Ia sudah menggali lubang dalam untuk proyek prestisius
itu. namun, apa hendak dikata, semua harga bahan baku melonjak.
Anggaran proyek membengkak. Butuh dana segar, tetapi tidak menemukan
kreditor. Ia mendapat dana dari sebuah bank lokal Shanghai, tetapi
tidak cukup besar karena hanya bisa membuat pilar-pilar beton. Proyek
itu macet.
Elijah yang hendak mencatat sejarah sukses berbisnis
di negeri lain dicekam ketakutan. Modal yang ada bakal menguap.
Sementara ayahnya selalu berpesan, apa pun utang harus dibayar. Utang
kepada keluarga dan utang pada bank atau teman sama saja kedudukannya.
”Namanya utang, ya, harus dibayar. Sekali gagal bayar utang atau sekali
menghindari bayar utang, karier sebagai usahawan selesai,” ujar
ayahnya kepada Elijah. ”Saya sulit tidur dan makan,” tuturnya di
Jakarta baru-baru ini.
Ketika jatuh tempo, Elijah dan istrinya
menjual semua aset milikinya untuk bayar utang kepada ayah dan bank.
Ayahnya tersenyum dan menepuk pundaknya. ”Begitulah kalau ingin jadi
pengusaha. Jaga martabat, jangan menghindar utang, Apa pun alasannya.”
Elijah dan istri hanya tersenyum kecut.
Di luar dugaan, ayahnya
kembali meminjamkan uang untuk modal membangun apartemen dan hotel yang
sedang dalam pembangunan. Elijah pun spontan bereaksi cepat. Ia ke
Shanghai untuk memulai proyeknya. Ia mengenyahkan semua kesedihan
selama empat tahun ini, selama periode 1998-2002, saat proyeknya
terbengkalai.
Ia pun habis-habisan. Proyek dikebut tanpa jeda.
Akhirnya hotel dan apartemen selesai dalam kurun waktu satu setengah
tahun. Apartemen habis terjual. Tingkat hunian hotelnya selalu di atas
97 persen. Anak muda itu kini leluasa merintis proyek-proyek properti
lainnya. Kini ia menjadi salah seorang pemain properti terpandang di
Tiongkok. Syukur pun dilakukan, tidak hanya saat proyeknya rampung,
tetapi juga ketika proyeknya terbengkalai. Ia merasa cobaan itu bagian
dari rahmat Yang Maha Pencipta sebab dengan begitu, ia menjadi lebih
kuat, lebih sabar, dan lebih matang.
Pengalaman yang lebih
kurang sama dialami pemain properti lainnya, Budiarsa Sastrawinata.
Usahawan dengan sejumlah proyek besar di Vietnam, Kamboja, dan India
ini bertutur bahwa saat memulai proyek di Hanoi, ia mengalami
kesulitan. Krisis ekonomi 1998-2002 membuat ia tertatih-tatih. Namun,
dengan tekad, ia menyingkirkan semua rintangan sehingga semua proyek
awalnya tuntas.
Budiarsa baru bisa tersenyum ketika proyek
apartemen, perumahan, dan hotelnya laris. Ia kemudian bergegas
mengembangkan proyek lain sehingga bendera Grup Ciputra berkibar di
Hanoi, Saigon, Phnom Penh, dan Kolkata.
Sebetulnya, tutur
Budiarsa, tidak ada rencana ekspansi ke luar negeri. Namun, dalam
percakapan dalam keluarga, tercetus gagasan ini. Soalnya, Grup Ciputra
sudah disegani di dalam negeri. Namun, dalam era globalisasi, apa
asyiknya menjadi jago kandang? Mengapa tidak melebarkan sayap usaha ke
luar negeri? Pilihan pertama jatuh kepada Vietnam. Negeri itu tengah
membangun dan persentase masyarakat kelas menengah naik.
Cuma,
kata Budiarsa, perlu nyali luar biasa, kreativitas, serta mental baja
untuk berbisnis di luar negeri. Maklum, tidak mudah menguasai medan yang
masih baru



0 komentar:
Post a Comment